Jason..
dialah orang yang paling gue sayang. Gue dapetin dia, di masa-masa terakhir
belajar. Yaps.. kita sama-sama kelas tiga SMA. Dialah yang selalau mengisi
hari-hari gue. Hampir setiap hari, dia selalu ngelakuin hal-hal yang gila
untu nyatain cintanya ke gue. Apapun, dia lakukan untuk bikin gue seneng.
Awalnya, gue nggak begitu tulus ke dia. Tapi, lama-kelamaan gue ngerasa dia itu
tulus ke gue. Dan gue pun terbawa ketulusan dia.
saat itu,
gue lagi belajar geografi. Kita nggak satu kelas. Gue lihat Jason dan
teman-temannya di depan pintu kelas. Dari pintu, Jason ngasih satu isyarat.
Tapi gue nggak ngerti. Dan nggak lama, Jason masuk ke kelas.
“misi
pak..” kata Jason.
“ada
apa?” jawab Pak Hidayat (guru dikelas).
“saya mau
kasih pengumuman Pak..” jawab Jason.
“pengumuman?
Pengumuman apa? Saya ini sedang mengajar! Apa kamu tidak lihat?” jawab Pak
Hidayat.
“tapi
Pak.. ini penting! Saya harus umum kan sekarang..!” kata Jason.
“nanti
saja..” jawab Pak Hidayat.
“aduh..
pak, pengumuman ini penting sekali. Harus sekarang kalau nanti, saya takut
lupa..” jawab Jason.
“ya
sudah. Cepat jangan lama-lama..” jawab pak guru.
Dan
setelah itu, Jason pun langsung mengumumkan apa yang mau dia sampaikan.
“teman-teman,
maaf ganggu kalian semua. Gue Cuma mau kasih pengumuman yang penting banget.
Dan pengumumannya itu adalah KENY, AKU SAYANG BANGET SAMA KAMU DAN AKU CINTAA
BANGET SAMA KAMU..” kata Jason.
Dan
seraya, Jason memberikan mawar dan boneka Teddy.
“keni,
ini untuk kamu.. AKU SAYANG KAMU KEN.. I LOVE YOU..” kata Jason.
“I LOVE
YOU TOO..” jawab gue.
Dan tak
lama setelah itu, Pak Hidayat menjewer telinga Jason dan menyuruhnya keluar
kelas. Dan anak-anak disatu kelas itu menertawai tingkah Jason. Dan setelah
itu, Pak Hidayat bilang
“ bapak,
juga sayang sama kamu ken..” katanya.
Dan
seluruh anak pun tertawa.
Dan jam
awaktu istirahat pun tiba. Saat gue mau turun dari tangga, tiba-tiba Jason
manggil gue dan dia nunjukkin satu tulisan I Y YOU yang dibentuk dari
pot-pot bunga yang disusun. Saat itu, teman-teman Jason nyanyi lagu yang
romantis abis di depan anak-anak yang lain. Dan Jason ngomong lagi “I LOVE YOU
KENY..” dan itu yang bikin gue tersenyum.
Dan nggak
lama, kelakuannya ini ke pergok sama guru. Karena, bunga yang di pakai itu
bunga milik sekolah. Akhirnya, Jason dan ketiga temannya dihukum untuk beresin bunga-bunga
itu ke tempat asalnya.
Siangnya,
gue nemuin Jason. Ternyata, dia masih beresin bunga-bunga yang tadi.
“hi..
jas.. kamu masih beresin ini?” tanya gue. “iya, nggak apa-apa. Yang penting,
aku udah nunjukkin rasa cinta aku ke kamu..” jawab Jason. “haha, kamu bisa
aja..” jawab gue. “ini buat kamu ken..” kata Jason. “kok ini sih.. ini
kan punya sekolah..” jaawab gue. “udah nggak apa-apa. Yang penting kan gak ada
guru yang tau..” jawab jason. “iya, dan ini sebagai tanda cinta kita..” seraya
nunjukkin gelang yang Jason kasih.
Dan untuk
kesekian kalinya, dia bilang “I LOVE YOU..”
Sampai
suatu ketika, pengumuman kelulusan. Jason udah liat nilainya, dan dia
LULUS. Sedangka gue, belum nemuin nama gue di papan.
“kamu
udah liat hasilnya?” tanya Jason. “belom. Jangan-jangan aku nggak lulus
lagi..” jawab gue. “ah.. nggak mungkin.. coba sini aku cari..” kata
Jason. “oh.. yaudah..” kata gue. “ini ada nama kamu.. KENITA SARI.. kamu
LULUS..” kata Jason. “hah mana? Coba aku lihat? Jawab gue. “iya, iya bener..
jason, aku lulus..” kata gue. Dan tanpa sengaja, kami berpelukkan. Kami
sangat senang.
Dan
sampai suatu ketika, kami bertengkar hebat. Sebelumnya, Jason nggak
pernah cerita tentang hal ini. Jason baru bilang, ketika kita udah lulus. Jason
harus kuliah di Australi. Ini paksaan dari orangtuanya.
“kenapa
kamu nggak bilang ini dari dulu?” kata gue. “aku juga nggak tau. aku kira
mereka nggak serius tentang hal ini..” jawab Jason. “tapi kenapa harus
Australi?” tanya gue. “kamu kan tau pilihannya itu Cuma dua, aku nggak kuliah,
dan aku kuliah di Australi. .” jawab Jason.
“tapi
kamu kan tau, aku itu nggak bisa ngejalanin hubungan jarak jauh.. aku nggak
bisa..” jawab gue.
“emang
menurut kamu cinta itu seperti apa? Apa kamu pikir, cinta itu harus ketemu setiap
hari dan selalu jalan bareng? Itu maksud cinta menurut kamu?” jawab Jason.
Gue hanya
tercengang setelah dia ngomong itu. Dan Jason nerusin omongan dia yang tadi.
“kalo
kamu emang sayang sama aku, pasti kamu nggak akan masalahin semua itu..” kata
Jason.
Dan
setelah itu, gue hanya menatap Jason dengan kesal dan masuk kerumah
seraya mengunci pintu.
“ken,
keni..” panggil Jason setelah gue masuk kerumah.
Setelah
gue dengar berita ini dari Jason. Sampai berhari-hari gue nggak mau ketemu sama
siapapun, dan gue nggak ngaktivin ponsel. Gue yakin, pasti Jason bakalan
hubungin gue, dan gue kesel sama dia. Gue nggak mau denger alasan dia.
Gue juga
sambil berpikir. Apa kelakuan gue ini udah bener? Dan ternyata gue salah, gue
terlalu egois. Gue nggak pernah mikirin perasaan Jason yang juga terkekang
dengan hal ini. Ini semua kemauan orangtuanya. Bukan kemauan Jason. Dan, itu
yang membuat gue mau ngaktivin ponsel.
Nggak
lama setelah ponsel aktif, ada pesan dari operator kalau gue dapet pesan suara.
Dan gue langsung ngecek. Ternyata itu pesan suara dari Jason.
“ken,
aku ngerti perasaan kamu seperti apa.. tapi ken, semua ini bukan mau aku.
Semua ini kemauan orangtua aku. Besok aku berangkat. Aku berharap kamu datang
di bandara. Aku bener tunggu kamu disana. Karena, itu kepastian buat aku..
keni, kamu bisa denger aku kan? Kamu ngerti kan maksud aku?.. aku tunggu kamu
ken.. aku sayang kamu..” itu adalah pesan suara dari Jason.
Paginya,
gue masih tetap berpikir tentang masalah ini. Dan akhirnya, gue putusin untuk
pergi nemuin Jason ke rumahnya. Gue pergi naik taxi. Ternyata Jason telepon.
Tapi, belum selesai dia ngomong, tiba-tiba ponsel gue lowbet. Dan gue bingung
nggak tau harus gimana. Gue Cuma bisa bilang ke pak supir untuk cepat.
Sesampainya,
dirumah Jason gue Cuma ngeliat dia dari taxi. Gue nggak punya keberanian untuk
ngomong langsung ke dia. Ternyata, dia masih nungguin gue di depan rumahnya.
Dia keliatan sedih banget. Tapi, gue gak bisa nemuin dia. Dan nggak lama, dia
berangkat menuju bandara. Gue cuma bisa liat dari dalam taxi.
Gue cuman
bisa nangis ngeliat kepergian dia. Akhirnya, gue putusin untuk tetap
menunggu dia sampai dia kembali ke Jakarta.
Lima
tahun Kemudian....
Kehidupan
gue nggak ada yang berubah. Perbedaannya, saat ini Jason nggak ada disini. Gue
Cuma tinggal sama sahabat karib gue namanya Tarra. Tarra itu sahabat se-kos-an
sama gue dan sahabat kerja juga. Kita soulmate yang paling pas disetiap
kegiatan apapun.
“bangun,.
Ayo bangun...” kata gue.
“ah..
ntar dulu..” jawab Tarra.
“nggak
bisa, bangun sekarang..” kata gue.
“bentar
lagi 10 menit aja..” kata Tarra.
“ih..
apaan sih, 10 menit! Yang ada tuh ntar malah 1 jam. Ayolah ra.. bangun.. nanti
telat!” kata gue sambil menarik kaki Tarra yang tak kunjung terbangun.
Dan
setelah itu, kami langsung berangkat kerja. Sesampainya disana, kami langsung
rapat dengan direktur untuk membahas tema yang masalah remaja yang sudah
dikeluarkan oleh majalah kami. Ternyata kerja keras kami selama ini mebuahkan
hasil. Artikel kami sangat disukai oleh para remaja-remaja. Tentu saja,
penjualan majalah kami sangat laku di pasaran.
Setelah
rapat selesai, direktur memanggil aku dan Tarra.
“keni,
tara..” kata direktur.
“iya ada
apa bu?” jawab gue dan Tarra.
“bisa
bicara sebentar?” tanya direktur pada kami.
“tentu
saja bu? Ada apa? Apa ada yang salah?” tanya Tarra cemas.
“tidak,
saya hanya ingin mengatakan terimakasih dan selamat. Atas kerja kelas kalian
selama ini, majalah kita bisa sukses. Dengan artikel-artikel yang sudah kalian
buat..” kata direktur.
“terimakasih
bu. Semua ini juga kerja keras semua pihak. Tidak hanya kami saja” jawab Tarra
sambil tersenyum.
“kalian
memang soulmate yang sangat tepat. Tidak salah, saya memilih kalia di bidang
ini..” kata direktur.
Dan
kami hanya tersenyum. Lalu direktur meneruskan pembicaraannya.
“dengan
bakat kalian yang sangat baik, apabila disatukan akan menjadi lebih baik lagi.
Bagaimana bila kalian menjadi tim edit artikel saja. Apa kalian mau?” tanya
direktur. “apa ibu serius?” tanyaku terkejut.
“tentu
ibu serius. Apa kalian tidak mau?” tanya direktur.
“tentu
sajakami mau. Kami akan melakukan apapun yang sebaik mungkin untuk peluncuran
artikel minggu depan.” Jawab Tarra.
“saya
harap kalian bisa bekerja sama dengan baik dan mampu menghasilkan artikel
yang lebih berbobot mengenai masalah dikalangan remaja..” kata direktur.
“baik
bu.. kami pasti bisa..” jawab gue.
Itulah
Tarra teman satu kamar kos dan orang terdekat gue. Walaupun kita dekat, tapi
ada salah satu cerita yang nggak bisa kita ceritain satu sama lain. Yaitu
mengenai pacar. Tarra punya seorang kekasih. Tapi kekasihnya saat ini kuliah di
Australi. Jadi, mereka berpisah untuk beberapa tahun. tapi bedanya, mereka
nggak lost contact sedangkan, hubungan gue sama jason..
nggak tau deh gimana..
Sepulang
kerja, kami habiskan minum bareng di kamar kost. Gue minum sekaleng fanta dan
Tarra minum air putih. Tapi setelah itu, dia ngeluarin banyak obat yang harus
diminum.
“aduh,
nggak nyangka ya.. kita bisa bikin artikel itu dan sampe banyak yang suka..”
kata gue.
“iya..
siapa dulu dong.. kita.. ya gak?” jawab Tarra.
“hehe
iya..” jawab gue. Tak lama Tarra mengeluarkan berbagai obat dan meminumnya
sekaligus.
“ra, obat
apaan itu? Banyak banget. Emang lo sakit?” tanya gue.
“nggak.
Ini itu bukan obat ini multivitamin!” jawabnya.
“tapi kok
banyak sih? Terus diminum sekaligus?” tanya gue penasaran.
“ya
namanya juga multivitamin.. harus banyaklah! Kan ada vitamin A, vitamin B,
terus vitamin B apa gitu. Ahh pokoknya banyak deh udah gak usah dipikirin!..”
jawabnya. “hehe, iyaa..” jawab gue.
Kami pun
merayakan keberhasilan kami dengan pergi makan ke mall.
“ lo mau
makan apa ra?” tanya gue.
“hmm.. makan
apa ya, gue ikut lo aja deh, lagian juga kan lo yang traktir gue.. hehe”
jawabnya.
“oh
yaudah kalo gitu..” jawab gue.
Dan
tiba-tiba ada seseorang yang menabrak Tarra dan mengotori tasnya.
“ aduh..
apa-apaan sih ini?? Lo itu jalan pake mata nggak sih??” kata Tarra kesal.
“
maaf-maaf saya bener nggak sengaja! Lagian juga masih bisa dibersihin kan?”
jawab orang itu.
“ enak
aja, pokoknya lo harus ganti rugi.. gak mau tau.. GANTI RUGI..!!” kata Tarra
kesal.
Setelah
aku perhatikan, sepertinya gue kenal orang ini.. tapi gue masih ragu. Dan gue
pun berusaha untuk memanggil namanya.
“ fandi?
Lo fandi kan? Yang di SMA dulu..” kata gue.
“ iya.
Lho, Keni..?” katanya.
“ iya
fandi, gue Keni. Apa kabar? Udah lama banget ya gak ketemu..” katanya.
“ kabar
gue baik. Tarra, ini Fandi teman SMA gue. Dan Fan, kenalin ini Tarra temen satu
kost gue..” kata gue.
“
Fandi..” kata fandi seraya mengajak Tarra berjabat tangan.
“
Tarra..” Jawab Tarra sengit.
“Oia,
jangan ngobrol disini nggak enak, ngobrol dijalan. Mending kita ngobrol-ngobrol
sambil makan? Gimana?” tanya gue.
“ gue sih
mau aja, tapi GANTI RUGI..” kata Tarra.
“
iya-iya, nanti gue tanggung jawab. Tapi bener ya Ken, kita makan? Soalnya perut
gue laper banget!” kata Fandi.
“ah dasar
cowok gak modal, nyari gratisan!” kata Tarra.
“ biarin
aja wee :P” kata Fandi.
“ yaudah,
kita selesein semua ini di Restautant.. gue yang traktir..” kata gue.
“asik-asik..
hahaa..” kata Fandi.
Sesampainya
di restaurant, kami pun langsung mencari tempat yang asik untuk ngobrol.
“ken,
ngapain sih pake ngajak dia?” cetus Tarra.
“aduh,
eneng yang cantik masih aja marah? Kan AA udah minta maaf.. haha..” jawab
Fandi.
“ih..
apaan sih, lo?” jawab Tarra cetus.
“eh..
kalian apan sih, udah dong! Sekarang kita makan-makan, gue yang teraktir. Pesan
apa aja yang kalian mau..” jawab gue.
“ok, deh
temen gue yang satu ini paling baik dah..” jawab fandi.
Kami pun
akhirnya makan bersama. Tapi, Tarra masih cemberut. Dia bilang, dia nggak mau
pesan apa-apa. Dan tiba-tiba Fandi bertanya tentang sesuatu yang bikin gue
tersedak.
“ken,
gimana kabar Jason? Lo masih sama dia kan?” tanya Fandi.
“hah..
uhuk uhuk.. ehmm hhmm..” gue kaget.
“eh, maaf
minum ken, minum..” kata Fandi.
“iya
makasih, gak pa-pa kali.. lo tanya hubungan gue?” tanya gue.
“ya
iyalah masa gue tanya hubungan gue sama temen lo itu..” jawab fandi bercanda.
“apaan
sih lo? Lo itu bukan level gue ya!” jawab Tarra cetus.
“ya
ampun, masih marah juga mba?” tanya Fandi.
“brisik
lo!” cetus Tarra.
“ehh..
apaan sih, udah deh kalian berantem mulu..” lerai gue.
“yaudah,
kalo gitu sekarang lo jawab pertanyaan gue yang tadi!” kata Fandi.
Nggak
lama sebelum gue ngomong, Tarra bilang kalo dia mau ke toilet dan dia segera
pergi.
“hubungan
gue sama Jason?” tanya gue lagi.
“iya
bawel.. udah cepet cerita kek!” jawab fandi.
“gue...
lostcontact fan sama dia..” jawab gue.
“apa?
Lostcontact?” tanya fandi.
“iya, gue
sama Jason lostcontact. Gue nggak tau, apa hubungan gue masih lanjut sama dia
atau nggak..” jawab gue.
“kok
bisa? Padahal dulu Jason nggak pernah bisa sehari aja, nggak ketemu sama lo,
denger suara lo.. aduhh..” kata Fandi.
“nggak
tau gue, fan.. mungkin gue sama Jason udah putus.” Jawab gue.
“apa lo
udah coba ngubungin dia?” tanya Fandi.
“udah,
tapi nggak bisa..” jawab gue.
Dan kami
hanya terdiam. Setelah itu, Tarra datang dan minta pulang. Tapi gue nggak ikut
pulang sama dia, karena gue masih pengen ngobrol-ngobrol sama fandi.
Malam
hari...
Gue sampe
dirumah. Tapi, ternyata Tarra belum pulang. Tiba-tiba, gue inget sama omongan
Fandi. Inget omongan Fandi, jadi inget sama Jason. Jason yang dulu tulus sama
gue sekarang nggak tau dimana. Kotak yang dulu nggak pernah gue buka, sekarang
baru gue buka lagi. Di kotak itu, banyak banget kenangan gue sama Jason waktu
SMA. Semua foto-foto, barang-barang dari Jason...
Liat
semua itu, gue jadi inget masa lalu. Dan tiba-tiba air mata gue jatuh. Gue baru
tau, ternyata gue masih sayang sama Jason. Dan gue kangen sama dia. Cuma Jason
yang bikin gue kayak gini. Dalam hati, gue nangis. Gue tanya, “Jason... kamu dimana?
Kenapa kamu hilang? Apa kamu lupa semua kenangan kita?”
Saat gue
nangis, tiba-tiba Tarra pulang. Gue buru-buru beresin semua barang-barang itu.
“gue
pulang...” kata Tarra.
Gue Cuma
diam, sambil ngusap air mata.
“lo
kenapa, ken? Lo nangis? Ken, kenapa?” tanya Tarra cemas.
“nggak
kok, gue Cuma kangen aja..” jawab gue.
“kangen
sama siapa? Sama pacar lo yang nggak jelas itu?” kata Tarra.
“tar, lo
itu nggak tau..” jawab gue.
“gue
emang nggak tau, karena lo nggak pernah cerita sama gue! Mau sampe kapan ken,
lo simpen tu rahasia?” kata Tarra.
“tarra..”
kata gue.
“kalo gue
kan hubungan nya jelas, gue Cuma long distance. Gue di Jakarta, dia di
Australi. Bentar lagi dia kesini. Nah, sekarang kalo elo? Gimana? Apa hubungan
lo jelas?” tanya Tarra.
“tarra,
lo nggak bakalan ngerti..” jawab gue.
“gue ini
sahabat lo, udah berapa lama sih gue tinggal sekamar sama lo? Ken, lo cerita
aja. Gue nggak bakalan bocor kok. Gue sama-sama cewe. Kali aja gue bisa kasih
solusi buat lo..” kata Tarra.
Liat
tatapan Tarra, bikin gue yakin buat cerita. Dan gue pun cerita.
“dulu,
waktu gue SMA gue punya pacar. Dia orang yang paling istimewa yang gue punya.
Tapi, kita jadian pas deket kelulusan sekolah. Selama kita pacaran dia nggak
pernah cerita kalo dia bakalan kuliah di Australi. Dia baru cerita pas kita
udah luus. Gue nggak bisa terima ini. Dan sampe sekarang, selama keberangkatan
dia ke Australi, kita lostcontact. Dan gue nggak tau apa kita masih pacaran..”
cerita gue.
“keni...
gue nggak nyangka rumit banget sih, kisah cinta lo.. gue yakin, pasti dia
bakalan balik ke lo. Lo yang sabar ya.. tunggu dia..” jawab Tarra.
“makasih
tar..” kata gue seraya memeluk Tarra.
Tiba-tiba
Tarra menceritakan sesuatu.
“oia, ken
cowo gue mau balik lho ke Jakarta. Nanti lo bakalan gue kenalin sama dia, dia
itu selain pacar gue, dia juga tunangan gue..” kata Tarra.
“hah..
beneran? Wah gue penasaran nih mau liat, gantengan pacar lo, apa pacar gue ya?
Haha” kata gue.
“ya..
pasti gue lah.. haha” kata Tarra.
Besoknya,
Gue sama
Tarra nggak berangkat bareng. Gue lagi ada proyek khusus buat bikin naskah
baru. Tarra bilang hari ini dia nggak pulang bareng. Katanya sih, pacarnya
balik dari Australi ke Jakarta. Tapi gue nggak tau dan nggak peduli.
sepulang
kerja Fandi sms. Dia bilang mau ketemuan sama gue. Yaudah, kita ketemuan di
tempat biasa..
“ken...”
teriak Fandi.
“iya
Fan..” jawab gue.
“lama
banget sih? Oia, temen lo yang bawel itu kemana?” tanya Fandi.
“tadi
macet dijalan, biasa lah.. temen gue? Maksud lo Tarra?” jawab gue.
“ya..”
kata Fandi.
“ehm..
cie nyari! Haha.. dia lagi jemput pacarnya, yang dari Australi.” Jawab gue.
“Australi?”
tanya Fandi.
“iya
Australi. Kenapa?” kata gue.
“nggak
apa-apa sih.. agak ganjil aja, pacar temen lo dari Australi. Jason, juga ke
Australi. Dan harusnya tahun ini dia selesai kuliah, balik ke Jakarta. Apa
jangan-jangan, pacarnya Tarra itu si Jason, ken?” Tanya Fandi curiga.
“ah..
apaan sih! Mungkin ini Cuma kebetulan aja, lagian juga kalo pacarnya Tarra itu
Jason, ya biarin aja.. kan hubunga gue sama Jason udah nggak jelas..” jawab
gue.
“yah..
kenny.. semangat dong!” kata Fandi.
“hmm..
insyaAllah gue coba, tapi agak berat sih.. haha” kata gue.
“haha,
keni keni..” kata Fandi.
Tiba-tiba
handphone gue bunyi, ternyata Tarra telepon..
“Fan,
bentar ya.. si Tarra telepon nih!” kata gue.
“oh iya,
iya angkat aja dulu. Ntar dia ngambek lagi..” kata Fandi.
Percakapan
di telepon:
“halo
tar.. ada apa?” tanya gue.
“ken,
bisa ketemu nggak?” minta Tarra.
“ketemu?
Emang ada apa?” tanya gue.
“gue mau
ngenalin lo, sama pacar gue yang dari Australi. Bisa kan? Please..” minta
Tarra.
“oh ok,
lo dimana sekarang?” tanya gue.
“beneran
nih? Ok kalo gitu gue dia night cafe. Cepet ya, buru!” kata Tarra.
“iye,
bawel. Tunggu!” kata gue.
“ok sip..
cepet ya!” kata Tarra.
“iya..
bye!” kata gue.
“bye..”
kata Tarra.
Setelah
itu, Fandi nanya..
“siapa
ken? Tanya Fandi.
“Tarra.
Katanya dia mau ngenalin pacarnya yang dari Australi itu, sekarang.” Kata gue.
“hah..
sekarang? Terus kencan kita gimana?” tanya Fandi sambil bercanda.
“kencan?
Apaan sih lo? Lo aja, ngajak gue pergi nggak jelas mau kemana. Udah lah
mendingan nemuin si Tarra aja. Lagian cafe nya nggak jauh dari sini.” Kata gue.
“
yaudahlah kalo gitu..” kata Fandi.
Nggak
lama gue sama Fandi sampe di cafe. Dan kita ketemu sama Tarra. Tapi pas gue dateng,
pacarnya Tarra nggak ada. Tarra bilang pacarnya lagi pesen makanan.
Dan pas
dia balik, betapa kagetnya gue..
Ternyata,
selama ini pacar yang selalu Tarra ceritain itu adalah Jason. Jason pacar gue,
yang nggak ada kabarnya selama dia di Australi. Fandi sahabat gue dan Jason pun
kaget bukan kepalang saat liat wajah Jason, yang sekarang jadi pacarnya sahabat
gue Tarra..
Untungnya
Tarra nggak pernah tau, pacar gue yang mana. Dan gue fikir Tarra nggak harus
tau tentang Jason pacarnya yang dulu waktu SMA adalah pacar gue..
Tarra
dengan bangganya ngenalin gue dan Fandi sama Jason. Tarra bilang, kalo dia sama
Jason udah tunangan, dan mereka mau cepet nikah tahun ini. Yang gue lihat,
nggak ada perubahan sedikitpun dari Jason. Namanya tetap Jason dan wajahnya masih
seperti Jason yang dulu..
Saat itu,
gue bener-bener kaget dan sakit banget. Perasaan gue nggak karuan. Gue nggak
tau, apa Jason juga ngerasain hal yang sama seperti gue saat itu.
Gue nggak
bisa nahan ini semua, gue minta maaf sama Tarra, tiba-tiba kepala gue pusing
dan gue mau cepet pulang duluan. Tarra agak kecewa sama permintaan gue ini.
Tapi, akhirnya dia ngebolehin. Dan gue buru-buru pergi sambil nangis. Saat itu,
Fandi ngejar gue..
“keni,
keni.. ken tunggu!” kata Fandi.
Nggak
lama, gue langsung berhenti sambil nangis.
“kenapa
lo pergi? Kenapa lo nggak bilang aja sama Tarra, kalo..” kata Fandi.
Dan gue
motong omonga dia, terus gue lanjutin lagi
“kalo
apa? Kalo Fandi pacar gue juga? Gitu maksud lo?” kata gue.
“ya, iya
kan lo masih ada hubungan sampe sekarang. Diantara lo, dan Jason nggak ada kan
yang bilang putus? Berarti ka lo masih jadi pacar Jason ken..” kata Fandi.
“tapi
sekarang Jason pacar Tarra. Tarra sahabat gue, apa gue harus nyakitin dia,
disaat dia lagi seneng?” kata gue sambil nangis.
“ya,
nggak gitu juga. Tapi tadi lo harusnya nggak..” kata Fandi.
Dan
omongan Fandi gue potong lagi.
“nggak
apa? Nggak pergi dari sana? Gue nggak bisa Fan, gue nggak kuat..” kata gue.
“ken..
ken.. kenapa harus gini sh jadinya, kok bisa ya Jason begini. Padahal dulu, dia
cinta banget sama lo, ken..” kata Fandi.
“udahlah,
fan.. sekarang sama dulu itu beda. Gue mau pulang sekarang..” kata gue.
“ken, lo
nggak apa-apa?” tanya Fandi cemas.
“iya
nggak apa-apa..” kata gue.
“ken,
hati-hati..” kata Fandi.
Saat itu,
gue langsung naik taxi. Dan gue nangis disana. Perasaan gue campur aduk. Gue
sedih, gue sakit, kecewa, dan nggak nyangka. Sepenuhnya, masalah ini bukan
salah Tarra. tarra nggak tau apa-apa. Yang dia tau Jason itu tunangan nya dari
Australi yang sebentar lagi bakalan nikah sama dia. Gue nggak nyangka teganya
Jason sama gue. Selama lima tahun, gue nunggu dia, walaupun dia nggak pernah
ada kabar..
Sampai
dirumah, gue keluarin semua isi kenangan gue sama Jason yang ada di kotak SMA.
gue nggak bisa nahan rasa kecewa gue. Semua benda yang Jason kasih, masih gue
simpan.
Dan nggak
lama, gue denger Tarra pulang. Gue, buru-buru ngeberesin barang-barang itu dan
pura-pura tidur. Ternyata benar, Tarra pulang. dia Cuma ngeliat gue yang udah
tidur. Nggak lama, dia juga ikutan tidur..
Ternyata,
besoknya Tarra udah berangkat duluan. Dan gue nggak tau. Dan seperti biasa gue
berangkat sendiri.
Sesampainya
dikantor, betapa terkejutnya gue saat gue lihat, ada Jason disana. Ternyata,
Tarra masukkin Jason dikantor yang sama. Gue pura-pura nggak lihat mereka.
Karena gue udah nggak sanggup lagi lihat wajah Jason.
Jason
yang saat itu masih di training kantor tiba-tiba, dateng nyamperin gue dan dia
bilang mau jelasin semua nya..
“ken,
keni..” kata Jason.
Saat itu
gue pura-pura nggak denger, dan lari.
“keni,
keni..” kata Jason.
Tapi
Jason bisa ngejar gue, dan megang tangan gue keras banget.
“apaan
sih.. lepas nggak? Gue nggak mau Tarra salah paham..” kata gue.
“yaudah
kalo gitu, kamu jangan gitu.. dengerin aku dulu ken..” kata Jason.
“Maaf ini
kantor, sekarang lagi jam kerja, saya harus kembali ke ruangan. Permisi..” kata
gue.
“ken..keni..”
kata Jason.
Dan gue,
nggak memperdulikan Jason.
Gue nggak
bisa konsentrasi kerja, gue liat Tarra wajahnya yang berseri-seri. Dia kelihatan
bahagia.. tiba-tiba Tarra nyamperin gue
“ken, lo
nggak apa-apa? Kemarin, waktu gue pulang lo udah tidur..”kata Tarra.
“iya gue
nggak apa-apa kok..” kata gue.
“syukurlah
kalo gitu, oia nanti lo bisa makan malem nggak sama gue dan Jason. Gue sama
Jason, mau ngerayain kedatangan Jason, trus sekalian ngerayain anniv yang ke
5th..” kata Tarra.
“hah,
dinner? Kayaknya gue nggak bisa deh tar.. lihat nih, kerjaan gue masih numpuk
banyak banget.. sorry..” kata gue.
“Oh
yaudah deh, nggak apa-apa. Tapi lain kali, lo harus ikut..” kata Tarra.
“iya..”
kata gue.
Lama-lama
gue gelisah. Gue takut Jason kerja di tempat yang sama. Ternyata, itu terjadi.
Jason keterima masuk sebagai photografer utama di kantor. Jadi, Jason satu tim
sama gue dan Tarra. Tarra yang tau hal ini, dia seneng banget. Dan gue Cuma
bisa sabar, dan ngeliat mereka sesekali berduan disatu ruangan yang sama.
Besoknya,
direktur minta gue dan Jason untuk ngebuktiin hipotesis dikalangan remaja.
Gue
ngerasa nggak enak banget. Tapi, gue ngeliat Jason malah enjoy sama keadaan
ini. Gue coba untuk ngilagin perasaan ini. Tapi, akhirnya gue bisa.
Seminggu
berlalu, gue masih bertahan disini. Beberapa kali, Jason nyoba untuk ngomong
sama gue. Tapi gue selalu nolak. Karena gue pikir nggak ada lagi hal yang harus
diomongin.
Udah dua
hari juga, Tarra izin kerja. Gue nggak tau dia kemana. Dia juga lama, nggak
pulang ke kos-kosan. Gue kangen dia.
Beberapa
hari kemudian, Fandi dateng ke kos-kosan. Dia bilang mau ketemu sama Tarra.
Tapi, Tarra sekarang lagi nggak ada dirumah. Kata Fandi, dua hari yang lalu dia
ketemu Tarra. Tarra bilang mau kenal sama Fandi. Dan minta Fandi dateng ke
kos-kosan. Tapi, ternyata Tarra nggak ada.
Saat itu,
gue curiga apa yang mau Tarra lakukan? Gue nggak ngerti maksud dia ketemu sama Fandi.
Setelah
lama Tarra izin kerja, tiba-tiba dia masuk dengan kondisi yang kurang fit.
Tarra terlihat marah. Gue nggak ngerti kenapa dia marah.
Tiba-tiba
direktur minta kami untuk bikin cerita baru mengenai remaja. Dan tiba-tiba,
Tarra mengusungkan tema tentang “musuh dalam selimut..”
Awalnya
gue kurang setuju, karena gue fikir itu terlalu biasa.
Tapi,
direktur setuju dengan ide Tarra. Dan akhirnya, kami mencari info di kalangan
remaja mengenai musuh dalam selimut dalam persahabatan.
Akhirnya,
penyelidikan kami selesai. Tapi, Tarra masih bersikap aneh sama gue.
Setelah
naskah selesai gue edit, nggak lama direktur marah besar sama hasil editan gue.
Beliau bilang, naskah yang udah gue bikin sangat buruk. Dan dia, minta diulang.
Setelah gue lihat, hasil editan ini bukan seperti yang gue bikin. Tapi,
direktur nggak mau tau. Dan Tarra terlihat menjebak gue, disituasi saat itu.
Akhirnya
gue coba untuk ngomong sama dia tentang sikapnya itu..
“Tar, lo
kemana aja?” tanya gue.
“itu
urusan gue.” Jawab Tarra ketus.
“lo
kenapa sih? Lo marah sama gue?” tanya gue.
“kalo
iya, kenapa? Apa lo peduli?” tanya Tarra sinis.
“lo
kenapa sih?” tanya gue.
Tiba-tiba
Jason datang.
“denger
ya.. lo dan lo Jason, kalian itu udah bohongin gue.. kalian itu jahat!” kata
Tarra keras.
“maksud
kamu apa? Aku nggak ngerti..” kata Jason.
“nggak
usah belagak peduli sama gue.. dan lo Keni. Gue tau siapa pacar lo itu! Pacar
SMA lo itu Jason kan? Jason yang jadi pacar gue juga! Kenapa lo nggak bilang
sama gue? Kenapa kalian rahasiain ini dari gue? Apa gue nggak boleh tau?” kata
Tarra keras sambil nangis.
“Tarra,
gue nggak bermaksud untuk ngerahasiain ini dari lo.. gue juga nganggep kalo
hubungan gue sama Jason udah selese..” kata gue sambil nangis.
“tapi
kenapa lo nggak cerita. Kenapa lo pendam ini sendiri? Kenapa? Lo bilang, gue
ini sahabat lo! Tapi lo malah main rahasiain masalah ini..” kata Tarra.
“tar..
tarra...” kata gue dan Jason.
Tiba-tiba
Tarra pingsan.
Jadi,
selama Tarra izin, dia nyari tau tentag pacar gue. Dan akhirnya dia tau, bahwa
Jason adalah pacar gue ketika SMA..
Besoknya
Tarra siuman. Tarra masih marah sama gue dan Jason. Jason berusaha untuk
ngejelasin ke Tarra berkali-kali dan gue juga sama. Tapi, hasilnya nihil. Tarra
tetap marah sama kita.
Tiba-tiba
ibu Tarra datang dan bilang sama gue, tentang kondisi Tarra. Ternyata Tarra
selama 6tahun positif mengidap penyakit kanker serviks. Gue shock, denger itu
semua. Dan gue bener-bener nggak nyangka. Kenapa hal seperti ini Tarra nggak
pernah cerita. Gue merasa berdosa sama Tarra. Karena, hidup dia udah
nggak lama lagi. Cinta mudah dicari, tapi sahabat seperti Tarra sulit dicari.
Dan gue memutuskan, untuk melepaskan Jason.
Ibu Tarra
juga cerita tentang hubungan Tarra dan Jason. Ternyata, Tarra dan Jason memang
sudah ah tunangan. Mereka tunangan sebelum Jason berangkat ke Australi.
Orangtua Jason berteman baik dengan orangtua Tarra. dan akhirnya, mereka
dijodohkan.
Setelah
gue fikir berkali-kali, akhirnya gue bisa menerima ini semua. Dan gue mencoba
untuk bilang tentang hal ini sama Jason. Tapi, Jason nolak..
“Jas..
aku mau ngomong sama kamu..” kata gue.
“ada
apa?” kata Jason.
“Jas, aku
pikir kita selama ini udah nggak ada hubungan lagi. Dan lebih baik kita...”
kata gue.
Jason
langsung memotong omongan gue..
“dan
lebih baik kita putus? Aku nggak bisa ken..” kata Jason sambil memegang tangan
gue.
“tapi,
Tarra lebih butuh kamu..”kata gue.
“Tarra
memang butuh aku, tapi aku butuh kamu..” kata Jason sambil mencium tangan gue
yang digenggamnya.
“Jas, aku
nggak bisa gini terus.. please, Jas.. kalo kamu sayang aku, tolong.. kamu juga
sayang Tarra kan? Anggep aja Tarra itu aku..” kata gue.
“tapi aku
nggak bisa..”kata Jason.
“kita
pasti bisa..” kata gue meyakinkan.
Dan
setelah itu, gue langsung pergi sambil nangis, dan Jason juga.
Tapi gue
harus tegar, ini semua demi Tarra.
Tiga
bulang berlalu, gue udah nggak satu kamar lagi sama Tarra. Sekarang Tarra
tinggal sama orangtuanya di Bandung. Dua hari lagi hari pernikahan Tarra dan
Jason. Perasaan kehilangan masih gue rasakan. Tapi gue harus tegar.. karena
Jason pergi sama sahabat gue, dan Jason nggak jauh dari gue. Karena Tarra
termasuk bagian dari gue...
Hari
pernikahan Tarra dan Jason tiba. Gue datang, dan mengantarkan Tarra ke altar
pernikahan. Saat itu, gue ngerasa ikut bahagia. Mungkin Tarra juga sama.
Saat,
ijab kabul dimulai tiba-tiba Tarra melakuka sesuatu yang sangat mengagetkan.
Tarra meminta, pernikahannya di batalkan. Dan dia mengatakan sesuatu..
“maaf,
papa.. mama.. Tarra nggak bisa ngelanjutin pernikahan ini..” kata Tarra.
Saat itu,
gue hanya terdiam.
“kenapa
nak? Ada apa?” kata ibu Tarra.
“Tarra
rasa Jason nggak cocok sama Tarra. Tarra tau, umur Tarra udah nggak lama lagi.
Tarra nggak mau bikin beban untuk Jason. Tarra juga tau, siapa yang Jason cinta
selama ini.. Jason selama ini cinta sama Keni bukan Tarra.. dan Tarra minta
sama Jason..
Jas,
tolong demi aku. Menikahlah dengan Keni...” kata Tarra.
Setelah
gue denger omongan Tarra, gue hanya terpaku.
Tiba-tiba
Tarra manggil gue, dan nyatuin tangan gue semdan Jason. Dia bilang..
“kalian
harus bahagia, maaf karena aku kalian terpisah.. tapi, sekarang aku nggak akan
misahin kalian.. aku sayang kalian.. makasih ken, jas, mama, papa.. udah bikin
aku bahagia selama ini..”kata Tarra.
Dan
tiba-tiba, Tarra menghembuskan nafas terakhir di tempat itu. Kami yang berada
di lokasi sangat terkejut dengan kejadian ini..
Ternyata,
Tarra menyampaikan amanah yang terakhir..
Selamat
Jalan Tarra, kami tidak akan pernah melupakan mu.
SELESAI
cerita
ini hanya fiktif belaka
bila ada kesamaan
pada latar, ending, nama pemain, puncak permasalahan, itu adalah kesamaan yang
tak disengaja. terimakasih.
***Kirimkan
kritik dan saranmu via e-mail: nuraini_azista@yahoo.com
atau bisa
dengan mention/ via facebook: @nurainiazis / Nuraini Azista Putri