Jumat, 24 Mei 2013

Love2Heart





Jason.. dialah orang yang paling gue sayang. Gue dapetin dia, di masa-masa terakhir belajar. Yaps.. kita sama-sama kelas tiga SMA. Dialah yang selalau mengisi hari-hari gue. Hampir setiap hari, dia selalu ngelakuin hal-hal yang gila untu nyatain cintanya ke gue. Apapun, dia lakukan untuk bikin gue seneng. Awalnya, gue nggak begitu tulus ke dia. Tapi, lama-kelamaan gue ngerasa dia itu tulus ke gue. Dan gue pun terbawa ketulusan dia.

saat itu, gue lagi belajar geografi. Kita nggak satu kelas. Gue lihat Jason dan teman-temannya di depan pintu kelas. Dari pintu, Jason ngasih satu isyarat. Tapi gue nggak ngerti. Dan nggak lama, Jason masuk ke kelas.
“misi pak..” kata Jason.
 “ada apa?” jawab Pak Hidayat (guru dikelas).
“saya mau kasih pengumuman Pak..” jawab Jason.
“pengumuman? Pengumuman apa? Saya ini sedang mengajar! Apa kamu tidak lihat?” jawab Pak Hidayat.
 “tapi Pak.. ini penting! Saya harus umum kan sekarang..!” kata Jason.
“nanti saja..” jawab Pak Hidayat.
“aduh.. pak, pengumuman ini penting sekali. Harus sekarang kalau nanti, saya takut lupa..” jawab Jason.
 “ya sudah. Cepat jangan lama-lama..” jawab pak guru.


Dan setelah itu, Jason pun langsung mengumumkan apa yang mau dia sampaikan.
“teman-teman, maaf ganggu kalian semua. Gue Cuma mau kasih pengumuman yang penting banget. Dan pengumumannya itu adalah KENY, AKU SAYANG BANGET SAMA KAMU DAN AKU CINTAA BANGET SAMA KAMU..” kata Jason.
 Dan seraya, Jason memberikan mawar dan boneka Teddy.
 “keni, ini untuk kamu.. AKU SAYANG KAMU KEN.. I LOVE YOU..” kata Jason.
“I LOVE YOU TOO..” jawab gue.
Dan tak lama setelah itu, Pak Hidayat menjewer telinga Jason dan menyuruhnya keluar kelas. Dan anak-anak disatu kelas itu menertawai tingkah Jason. Dan setelah itu, Pak Hidayat bilang
“ bapak, juga sayang sama kamu ken..” katanya.
Dan seluruh anak pun tertawa.


Dan jam awaktu istirahat pun tiba. Saat gue mau turun dari tangga, tiba-tiba Jason manggil gue dan dia nunjukkin satu tulisan I Y YOU yang dibentuk dari pot-pot bunga yang disusun. Saat itu, teman-teman Jason nyanyi lagu yang romantis abis di depan anak-anak yang lain. Dan Jason ngomong lagi “I LOVE YOU KENY..” dan itu yang bikin gue tersenyum. 
Dan nggak lama, kelakuannya ini ke pergok sama guru. Karena, bunga yang di pakai itu bunga milik sekolah. Akhirnya, Jason dan ketiga temannya dihukum untuk beresin bunga-bunga itu ke tempat asalnya.


Siangnya, gue nemuin Jason. Ternyata, dia masih beresin bunga-bunga yang tadi.
“hi.. jas.. kamu masih beresin ini?” tanya gue. “iya, nggak apa-apa. Yang penting, aku udah nunjukkin rasa cinta aku ke kamu..” jawab Jason. “haha, kamu bisa aja..” jawab gue. “ini buat kamu ken..” kata Jason. “kok ini sih..  ini kan punya sekolah..” jaawab gue. “udah nggak apa-apa. Yang penting kan gak ada guru yang tau..” jawab jason.  “iya, dan ini sebagai tanda cinta kita..” seraya nunjukkin gelang yang Jason kasih.
Dan untuk kesekian kalinya, dia bilang “I LOVE YOU..”

Sampai suatu ketika,  pengumuman kelulusan. Jason udah liat nilainya, dan dia LULUS. Sedangka gue,   belum nemuin nama gue di papan.
“kamu udah liat hasilnya?” tanya Jason.  “belom. Jangan-jangan aku nggak lulus lagi..” jawab gue.  “ah.. nggak mungkin.. coba sini aku cari..” kata Jason. “oh.. yaudah..” kata gue. “ini ada nama kamu.. KENITA SARI.. kamu LULUS..” kata Jason. “hah mana? Coba aku lihat? Jawab gue. “iya, iya bener.. jason, aku lulus..”  kata gue. Dan tanpa sengaja, kami berpelukkan. Kami sangat senang.


Dan sampai suatu ketika,  kami bertengkar hebat. Sebelumnya, Jason nggak pernah cerita tentang hal ini. Jason baru bilang, ketika kita udah lulus. Jason harus kuliah di Australi. Ini paksaan dari orangtuanya.
“kenapa kamu nggak bilang ini dari dulu?”  kata gue. “aku juga nggak tau. aku kira mereka nggak serius tentang hal ini..” jawab Jason. “tapi kenapa harus Australi?” tanya gue. “kamu kan tau pilihannya itu Cuma dua, aku nggak kuliah, dan aku kuliah  di Australi. .” jawab Jason.
“tapi kamu kan tau, aku itu nggak bisa ngejalanin hubungan jarak jauh.. aku nggak bisa..” jawab gue.
“emang menurut kamu cinta itu seperti apa? Apa kamu pikir, cinta itu harus ketemu setiap hari dan selalu jalan bareng? Itu maksud cinta menurut kamu?” jawab Jason.
Gue hanya tercengang setelah dia ngomong itu. Dan Jason nerusin omongan dia yang tadi.
“kalo kamu emang sayang sama aku, pasti kamu nggak akan masalahin semua itu..” kata Jason.
Dan setelah itu, gue hanya menatap Jason  dengan kesal dan masuk kerumah seraya mengunci pintu.
“ken, keni..” panggil Jason setelah gue masuk kerumah.

Setelah gue dengar berita ini dari Jason. Sampai berhari-hari gue nggak mau ketemu sama siapapun, dan gue nggak ngaktivin ponsel. Gue yakin, pasti Jason bakalan hubungin gue, dan gue kesel sama dia. Gue nggak mau denger alasan dia.
Gue juga sambil berpikir. Apa kelakuan gue ini udah bener? Dan ternyata gue salah, gue terlalu egois. Gue nggak pernah mikirin perasaan Jason yang juga terkekang dengan hal ini. Ini semua kemauan orangtuanya. Bukan kemauan Jason. Dan, itu yang membuat gue mau ngaktivin ponsel.

Nggak lama setelah ponsel aktif, ada pesan dari operator kalau gue dapet pesan suara. Dan gue langsung ngecek. Ternyata itu pesan suara dari Jason.
“ken, aku  ngerti perasaan kamu seperti apa.. tapi ken, semua ini bukan mau aku. Semua ini kemauan orangtua aku. Besok aku berangkat. Aku berharap kamu datang di bandara. Aku bener tunggu kamu disana. Karena, itu kepastian buat aku.. keni, kamu bisa denger aku kan? Kamu ngerti kan maksud aku?.. aku tunggu kamu ken.. aku sayang kamu..” itu adalah pesan suara dari Jason.


Paginya, gue masih tetap berpikir tentang masalah ini. Dan akhirnya, gue putusin untuk pergi nemuin Jason ke rumahnya. Gue pergi naik taxi. Ternyata Jason telepon. Tapi, belum selesai dia ngomong, tiba-tiba ponsel gue lowbet. Dan gue bingung nggak tau harus gimana. Gue Cuma bisa bilang ke pak supir untuk cepat.


Sesampainya, dirumah Jason gue Cuma ngeliat dia dari taxi. Gue nggak punya keberanian untuk ngomong langsung ke dia. Ternyata, dia masih nungguin gue di depan rumahnya. Dia keliatan sedih banget. Tapi, gue gak bisa nemuin dia. Dan nggak lama, dia berangkat menuju bandara. Gue cuma bisa liat dari dalam taxi.
Gue cuman bisa nangis  ngeliat kepergian dia. Akhirnya, gue putusin untuk tetap menunggu dia sampai dia kembali ke Jakarta.


Lima tahun Kemudian....


Kehidupan gue nggak ada yang berubah. Perbedaannya, saat ini Jason nggak ada disini. Gue Cuma tinggal sama sahabat karib gue namanya Tarra. Tarra itu sahabat se-kos-an sama gue dan sahabat kerja juga. Kita soulmate yang paling pas disetiap kegiatan apapun.
“bangun,. Ayo bangun...” kata gue.
“ah.. ntar dulu..” jawab Tarra.
“nggak bisa,  bangun sekarang..” kata gue.
“bentar lagi 10 menit aja..” kata Tarra.  
“ih.. apaan sih, 10 menit! Yang ada tuh ntar malah 1 jam. Ayolah ra.. bangun.. nanti telat!” kata gue sambil menarik kaki Tarra yang tak kunjung terbangun.


Dan setelah itu, kami langsung berangkat kerja. Sesampainya disana, kami langsung rapat dengan direktur untuk membahas tema yang masalah remaja yang sudah dikeluarkan oleh majalah kami. Ternyata kerja keras kami selama ini mebuahkan hasil. Artikel kami sangat disukai oleh para remaja-remaja. Tentu saja, penjualan majalah kami sangat laku di pasaran.

Setelah rapat selesai, direktur memanggil aku dan Tarra.
“keni, tara..” kata direktur.
“iya ada apa bu?” jawab gue dan Tarra.
 “bisa bicara sebentar?” tanya direktur pada kami.
“tentu saja bu? Ada apa? Apa ada yang salah?” tanya Tarra cemas.
“tidak, saya hanya ingin mengatakan terimakasih dan selamat. Atas kerja kelas kalian selama ini, majalah kita bisa sukses. Dengan artikel-artikel yang sudah kalian buat..” kata direktur.
 “terimakasih bu. Semua ini juga kerja keras semua pihak. Tidak hanya kami saja” jawab Tarra sambil tersenyum.
“kalian memang soulmate yang sangat tepat. Tidak salah, saya memilih kalia di bidang ini..” kata direktur.
 Dan kami hanya tersenyum. Lalu direktur meneruskan pembicaraannya.
 “dengan bakat kalian yang sangat baik, apabila disatukan akan menjadi lebih baik lagi. Bagaimana bila kalian menjadi tim edit artikel saja. Apa kalian mau?” tanya direktur. “apa ibu serius?” tanyaku terkejut.
“tentu ibu serius. Apa kalian tidak mau?” tanya direktur.
“tentu sajakami mau. Kami akan melakukan apapun yang sebaik mungkin untuk peluncuran artikel minggu depan.” Jawab Tarra.
“saya harap kalian bisa bekerja sama dengan baik dan  mampu menghasilkan artikel yang lebih berbobot mengenai masalah dikalangan remaja..” kata direktur.
 “baik bu.. kami pasti bisa..” jawab gue.

Itulah Tarra teman satu kamar kos dan orang terdekat gue. Walaupun kita dekat, tapi ada salah satu cerita yang nggak bisa kita ceritain satu sama lain. Yaitu mengenai pacar. Tarra punya seorang kekasih. Tapi kekasihnya saat ini kuliah di Australi. Jadi, mereka berpisah untuk beberapa tahun. tapi bedanya, mereka nggak lost contact  sedangkan, hubungan gue sama jason.. nggak tau deh gimana..


Sepulang kerja, kami habiskan minum bareng di kamar kost. Gue minum sekaleng fanta dan Tarra minum air putih. Tapi setelah itu, dia ngeluarin banyak obat yang harus diminum.
“aduh, nggak nyangka ya.. kita bisa bikin artikel itu dan sampe banyak yang suka..” kata gue.
 “iya.. siapa dulu dong.. kita.. ya gak?” jawab Tarra.
“hehe iya..” jawab gue. Tak lama Tarra mengeluarkan berbagai obat dan meminumnya sekaligus.
“ra, obat apaan itu? Banyak banget. Emang lo sakit?” tanya gue.
 “nggak. Ini itu bukan obat ini multivitamin!” jawabnya.
“tapi kok banyak sih? Terus diminum sekaligus?” tanya gue penasaran.
 “ya namanya juga multivitamin.. harus banyaklah! Kan ada vitamin A, vitamin B, terus vitamin B apa gitu. Ahh pokoknya banyak deh udah gak usah dipikirin!..” jawabnya. “hehe, iyaa..” jawab gue.


Kami pun merayakan keberhasilan kami dengan pergi makan ke mall.
“ lo mau makan apa ra?” tanya gue.
“hmm.. makan apa ya, gue ikut lo aja deh, lagian juga kan lo yang traktir gue.. hehe” jawabnya.
 “oh yaudah kalo gitu..” jawab gue.


Dan tiba-tiba ada seseorang yang menabrak Tarra dan mengotori tasnya.
“ aduh.. apa-apaan sih ini?? Lo itu jalan pake mata nggak sih??” kata Tarra kesal.
“ maaf-maaf saya bener nggak sengaja! Lagian juga masih bisa dibersihin kan?” jawab orang itu.
“ enak aja, pokoknya lo harus ganti rugi.. gak mau tau.. GANTI RUGI..!!” kata Tarra kesal.


Setelah aku perhatikan, sepertinya gue kenal orang ini.. tapi gue masih ragu. Dan gue pun berusaha untuk memanggil namanya.
“ fandi? Lo fandi kan? Yang di SMA dulu..” kata gue.
“ iya. Lho, Keni..?” katanya.
“ iya fandi, gue Keni. Apa kabar? Udah lama banget ya gak ketemu..” katanya.
“ kabar gue baik. Tarra, ini Fandi teman SMA gue. Dan Fan, kenalin ini Tarra temen satu kost gue..” kata gue.
“ Fandi..” kata fandi seraya mengajak Tarra berjabat tangan.
“ Tarra..” Jawab Tarra sengit.
“Oia, jangan ngobrol disini nggak enak, ngobrol dijalan. Mending kita ngobrol-ngobrol sambil makan? Gimana?” tanya gue.
“ gue sih mau aja, tapi GANTI RUGI..” kata Tarra.
“ iya-iya, nanti gue tanggung jawab. Tapi bener ya Ken, kita makan? Soalnya perut gue laper banget!” kata Fandi.
“ah dasar cowok gak modal, nyari gratisan!” kata Tarra.
“ biarin aja wee :P”  kata Fandi.
“ yaudah, kita selesein semua ini di Restautant.. gue yang traktir..” kata gue.
“asik-asik.. hahaa..” kata Fandi.


Sesampainya di restaurant, kami pun langsung mencari tempat yang asik untuk ngobrol.
“ken, ngapain sih pake ngajak dia?” cetus Tarra.
“aduh, eneng yang cantik masih aja marah? Kan AA udah minta maaf.. haha..” jawab Fandi.
“ih.. apaan sih, lo?” jawab Tarra cetus.
“eh.. kalian apan sih, udah dong! Sekarang kita makan-makan, gue yang teraktir. Pesan apa aja yang kalian mau..” jawab gue.
“ok, deh temen gue yang satu ini paling baik dah..” jawab fandi.

Kami pun akhirnya makan bersama. Tapi, Tarra masih cemberut. Dia bilang, dia nggak mau pesan apa-apa. Dan tiba-tiba Fandi bertanya tentang sesuatu yang bikin gue tersedak.
“ken, gimana kabar Jason? Lo masih sama dia kan?” tanya Fandi.
“hah.. uhuk uhuk.. ehmm hhmm..” gue kaget.
“eh, maaf minum ken, minum..” kata Fandi.
“iya makasih,  gak pa-pa kali.. lo tanya hubungan gue?” tanya gue.
“ya iyalah masa gue tanya hubungan gue sama temen lo itu..” jawab fandi bercanda.
“apaan sih lo? Lo itu bukan level gue ya!” jawab Tarra cetus.
“ya ampun, masih marah juga mba?” tanya Fandi.
“brisik lo!” cetus Tarra.
“ehh.. apaan sih, udah deh kalian berantem mulu..” lerai gue.
“yaudah, kalo gitu sekarang lo jawab pertanyaan gue yang tadi!” kata Fandi.

Nggak lama sebelum gue ngomong, Tarra bilang kalo dia mau ke toilet dan dia segera pergi.
“hubungan gue sama Jason?” tanya gue lagi.
“iya bawel.. udah cepet cerita kek!” jawab fandi.
“gue... lostcontact fan sama dia..” jawab gue.
“apa? Lostcontact?” tanya fandi.
“iya, gue sama Jason lostcontact. Gue nggak tau, apa hubungan gue masih lanjut sama dia atau nggak..” jawab gue.
“kok bisa? Padahal dulu Jason nggak pernah bisa sehari aja, nggak ketemu sama lo, denger suara lo.. aduhh..” kata Fandi.
“nggak tau gue, fan.. mungkin gue sama Jason udah putus.” Jawab gue.
“apa lo udah coba ngubungin dia?” tanya Fandi.
“udah, tapi nggak bisa..” jawab gue.
Dan kami hanya terdiam. Setelah itu, Tarra datang dan minta pulang. Tapi gue nggak ikut pulang sama dia, karena gue masih pengen ngobrol-ngobrol sama fandi.


Malam hari...
Gue sampe dirumah. Tapi, ternyata Tarra belum pulang. Tiba-tiba, gue inget sama omongan Fandi. Inget omongan Fandi, jadi inget sama Jason. Jason yang dulu tulus sama gue sekarang nggak tau dimana. Kotak yang dulu nggak pernah gue buka, sekarang baru gue buka lagi. Di kotak itu, banyak banget kenangan gue sama Jason waktu SMA. Semua foto-foto, barang-barang dari Jason...

Liat semua itu, gue jadi inget masa lalu. Dan tiba-tiba air mata gue jatuh. Gue baru tau, ternyata gue masih sayang sama Jason. Dan gue kangen sama dia. Cuma Jason yang bikin gue kayak gini. Dalam hati, gue nangis. Gue tanya, “Jason... kamu dimana? Kenapa kamu hilang? Apa kamu lupa semua kenangan kita?”

Saat gue nangis, tiba-tiba Tarra pulang. Gue buru-buru beresin semua barang-barang itu.
“gue pulang...” kata Tarra.
Gue Cuma diam, sambil ngusap air mata.
“lo kenapa, ken? Lo nangis? Ken, kenapa?” tanya Tarra cemas.
“nggak kok, gue Cuma kangen aja..” jawab gue.
“kangen sama siapa? Sama pacar lo yang nggak jelas itu?” kata Tarra.
“tar, lo itu nggak tau..” jawab gue.
“gue emang nggak tau, karena lo nggak pernah cerita sama gue! Mau sampe kapan ken, lo simpen tu rahasia?” kata Tarra.
“tarra..” kata gue.
“kalo gue kan hubungan nya jelas, gue Cuma long distance. Gue di Jakarta, dia di Australi. Bentar lagi dia kesini. Nah, sekarang kalo elo? Gimana? Apa hubungan lo jelas?” tanya Tarra.
“tarra, lo nggak bakalan ngerti..” jawab gue.
“gue ini sahabat lo, udah berapa lama sih gue tinggal sekamar sama lo? Ken, lo cerita aja. Gue nggak bakalan bocor kok. Gue sama-sama cewe. Kali aja gue bisa kasih solusi buat lo..” kata Tarra.

Liat tatapan Tarra, bikin gue yakin buat cerita. Dan gue pun cerita.
“dulu, waktu gue SMA gue punya pacar. Dia orang yang paling istimewa yang gue punya. Tapi, kita jadian pas deket kelulusan sekolah. Selama kita pacaran dia nggak pernah cerita kalo dia bakalan kuliah di Australi. Dia baru cerita pas kita udah luus. Gue nggak bisa terima ini. Dan sampe sekarang, selama keberangkatan dia ke Australi, kita lostcontact. Dan gue nggak tau apa kita masih pacaran..” cerita gue.
“keni... gue nggak nyangka rumit banget sih, kisah cinta lo.. gue yakin, pasti dia bakalan balik ke lo. Lo yang sabar ya.. tunggu dia..” jawab Tarra.
“makasih tar..” kata gue seraya memeluk Tarra.
Tiba-tiba Tarra menceritakan sesuatu.
“oia, ken cowo gue mau balik lho ke Jakarta. Nanti lo bakalan gue kenalin sama dia, dia itu selain pacar gue, dia juga tunangan gue..” kata Tarra.
“hah.. beneran? Wah gue penasaran nih mau liat, gantengan pacar lo, apa pacar gue ya? Haha” kata gue.
“ya.. pasti gue lah.. haha” kata Tarra.


Besoknya,
Gue sama Tarra nggak berangkat bareng. Gue lagi ada proyek khusus buat bikin naskah baru. Tarra bilang hari ini dia nggak pulang bareng. Katanya sih, pacarnya balik dari Australi ke Jakarta. Tapi gue nggak tau dan nggak peduli.
sepulang kerja Fandi sms. Dia bilang mau ketemuan sama gue. Yaudah, kita ketemuan di tempat biasa..
“ken...” teriak Fandi.
“iya Fan..” jawab gue.
“lama banget sih? Oia, temen lo yang bawel itu kemana?” tanya Fandi.
“tadi macet dijalan, biasa lah.. temen gue? Maksud lo Tarra?” jawab gue.
“ya..” kata Fandi.
“ehm.. cie nyari! Haha.. dia lagi jemput pacarnya, yang dari Australi.” Jawab gue.
“Australi?” tanya Fandi.
“iya Australi. Kenapa?” kata gue.
“nggak apa-apa sih.. agak ganjil aja, pacar temen lo dari Australi. Jason, juga ke Australi. Dan harusnya tahun ini dia selesai kuliah, balik ke Jakarta. Apa jangan-jangan, pacarnya Tarra itu si Jason, ken?” Tanya Fandi curiga.
“ah.. apaan sih! Mungkin ini Cuma kebetulan aja, lagian juga kalo pacarnya Tarra itu Jason, ya biarin aja.. kan hubunga gue sama Jason udah nggak jelas..” jawab gue.
“yah.. kenny.. semangat dong!” kata Fandi.
“hmm.. insyaAllah gue coba, tapi agak berat sih.. haha” kata gue.
“haha, keni keni..” kata Fandi.

Tiba-tiba handphone gue bunyi, ternyata Tarra telepon..
“Fan, bentar ya.. si Tarra telepon nih!” kata gue.
“oh iya, iya angkat aja dulu. Ntar dia ngambek lagi..” kata Fandi.
Percakapan di telepon:
“halo tar.. ada apa?” tanya gue.
“ken, bisa ketemu nggak?” minta Tarra.
“ketemu? Emang ada apa?” tanya gue.
“gue mau ngenalin lo, sama pacar gue yang dari Australi. Bisa kan? Please..” minta Tarra.
“oh ok, lo dimana sekarang?” tanya gue.
“beneran nih? Ok kalo gitu gue dia night cafe. Cepet ya, buru!” kata Tarra.
“iye, bawel. Tunggu!” kata gue.
“ok sip.. cepet ya!” kata Tarra.
“iya.. bye!” kata gue.
“bye..” kata Tarra.

Setelah itu, Fandi nanya..
“siapa ken? Tanya Fandi.
“Tarra. Katanya dia mau ngenalin pacarnya yang dari Australi itu, sekarang.” Kata gue.
“hah.. sekarang? Terus kencan kita gimana?” tanya Fandi sambil bercanda.
“kencan? Apaan sih lo? Lo aja, ngajak gue pergi nggak jelas mau kemana. Udah lah mendingan nemuin si Tarra aja. Lagian cafe nya nggak jauh dari sini.” Kata gue.
“ yaudahlah kalo gitu..” kata Fandi.

Nggak lama gue sama Fandi sampe di cafe. Dan kita ketemu sama Tarra. Tapi pas gue dateng, pacarnya Tarra nggak ada. Tarra bilang pacarnya lagi pesen makanan.
Dan pas dia balik, betapa kagetnya gue..
Ternyata, selama ini pacar yang selalu Tarra ceritain itu adalah Jason. Jason pacar gue, yang nggak ada kabarnya selama dia di Australi. Fandi sahabat gue dan Jason pun kaget bukan kepalang saat liat wajah Jason, yang sekarang jadi pacarnya sahabat gue Tarra..
Untungnya Tarra nggak pernah tau, pacar gue yang mana. Dan gue fikir Tarra nggak harus tau tentang Jason pacarnya yang dulu waktu SMA adalah pacar gue..
Tarra dengan bangganya ngenalin gue dan Fandi sama Jason. Tarra bilang, kalo dia sama Jason udah tunangan, dan mereka mau cepet nikah tahun ini. Yang gue lihat, nggak ada perubahan sedikitpun dari Jason. Namanya tetap Jason dan wajahnya masih seperti Jason yang dulu..
Saat itu, gue bener-bener kaget dan sakit banget. Perasaan gue nggak karuan. Gue nggak tau, apa Jason juga ngerasain hal yang sama seperti gue saat itu.
Gue nggak bisa nahan ini semua, gue minta maaf sama Tarra, tiba-tiba kepala gue pusing dan gue mau cepet pulang duluan. Tarra agak kecewa sama permintaan gue ini. Tapi, akhirnya dia ngebolehin. Dan gue buru-buru pergi sambil nangis. Saat itu, Fandi ngejar gue..

“keni, keni.. ken tunggu!” kata Fandi.
Nggak lama, gue langsung berhenti sambil nangis.
“kenapa lo pergi? Kenapa lo nggak bilang aja sama Tarra, kalo..” kata Fandi.
Dan gue motong omonga dia, terus gue lanjutin lagi
“kalo apa? Kalo Fandi pacar gue juga? Gitu maksud lo?” kata gue.
“ya, iya kan lo masih ada hubungan sampe sekarang. Diantara lo, dan Jason nggak ada kan yang bilang putus? Berarti ka lo masih jadi pacar Jason ken..” kata Fandi.
“tapi sekarang Jason pacar Tarra. Tarra sahabat gue, apa gue harus nyakitin dia, disaat dia lagi seneng?” kata gue sambil nangis.
“ya, nggak gitu juga. Tapi tadi lo harusnya nggak..” kata  Fandi.
Dan omongan Fandi gue potong lagi.
“nggak apa? Nggak pergi dari sana? Gue nggak bisa Fan, gue nggak kuat..” kata gue.
“ken.. ken.. kenapa harus gini sh jadinya, kok bisa ya Jason begini. Padahal dulu, dia cinta banget sama lo, ken..” kata Fandi.
“udahlah, fan.. sekarang sama dulu itu beda. Gue mau pulang sekarang..” kata gue.
“ken, lo nggak apa-apa?” tanya Fandi cemas.
“iya nggak apa-apa..” kata gue.
“ken, hati-hati..” kata Fandi.


Saat itu, gue langsung naik taxi. Dan gue nangis disana. Perasaan gue campur aduk. Gue sedih, gue sakit, kecewa, dan nggak nyangka. Sepenuhnya, masalah ini bukan salah Tarra. tarra nggak tau apa-apa. Yang dia tau Jason itu tunangan nya dari Australi yang sebentar lagi bakalan nikah sama dia. Gue nggak nyangka teganya Jason sama gue. Selama lima tahun, gue nunggu dia, walaupun dia nggak pernah ada kabar..

Sampai dirumah, gue keluarin semua isi kenangan gue sama Jason yang ada di kotak SMA. gue nggak bisa nahan rasa kecewa gue. Semua benda yang Jason kasih, masih gue simpan.
Dan nggak lama, gue denger Tarra pulang. Gue, buru-buru ngeberesin barang-barang itu dan pura-pura tidur. Ternyata benar, Tarra pulang. dia Cuma ngeliat gue yang udah tidur. Nggak lama, dia juga ikutan tidur..

Ternyata, besoknya Tarra udah berangkat duluan. Dan gue nggak tau. Dan seperti biasa gue berangkat sendiri.



Sesampainya dikantor, betapa terkejutnya gue saat gue lihat, ada Jason disana. Ternyata, Tarra masukkin Jason dikantor yang sama. Gue pura-pura nggak lihat mereka. Karena gue udah nggak sanggup lagi lihat wajah Jason.
Jason yang saat itu masih di training kantor tiba-tiba, dateng nyamperin gue dan dia bilang mau jelasin semua nya..
“ken, keni..” kata Jason.
Saat itu gue pura-pura nggak denger, dan lari.
“keni, keni..” kata Jason.
Tapi Jason bisa ngejar gue, dan megang tangan gue keras banget.
“apaan sih.. lepas nggak? Gue nggak mau Tarra salah paham..” kata gue.
“yaudah kalo gitu, kamu jangan gitu.. dengerin aku dulu ken..” kata Jason.
“Maaf ini kantor, sekarang lagi jam kerja, saya harus kembali ke ruangan. Permisi..” kata gue.
“ken..keni..” kata Jason.
Dan gue, nggak memperdulikan Jason.
Gue nggak bisa konsentrasi kerja, gue liat Tarra wajahnya yang berseri-seri. Dia kelihatan bahagia.. tiba-tiba Tarra nyamperin gue
“ken, lo nggak apa-apa? Kemarin, waktu gue pulang lo udah tidur..”kata Tarra.
“iya gue nggak apa-apa kok..” kata gue.
“syukurlah kalo gitu, oia nanti lo bisa makan malem nggak sama gue dan Jason. Gue sama Jason, mau ngerayain kedatangan Jason, trus sekalian ngerayain anniv yang ke 5th..” kata Tarra.
“hah, dinner? Kayaknya gue nggak bisa deh tar.. lihat nih, kerjaan gue masih numpuk banyak banget.. sorry..” kata gue.
“Oh yaudah deh, nggak apa-apa. Tapi lain kali, lo harus ikut..” kata Tarra.
“iya..” kata gue.

Lama-lama gue gelisah. Gue takut Jason kerja di tempat yang sama. Ternyata, itu terjadi. Jason keterima masuk sebagai photografer utama di kantor. Jadi, Jason satu tim sama gue dan Tarra. Tarra yang tau hal ini, dia seneng banget. Dan gue Cuma bisa sabar, dan ngeliat mereka sesekali berduan disatu ruangan yang sama.

Besoknya, direktur minta gue dan Jason untuk ngebuktiin hipotesis dikalangan remaja.
Gue ngerasa nggak enak banget. Tapi, gue ngeliat Jason malah enjoy sama keadaan ini. Gue coba untuk ngilagin perasaan ini. Tapi, akhirnya gue bisa.

Seminggu berlalu, gue masih bertahan disini. Beberapa kali, Jason nyoba untuk ngomong sama gue. Tapi gue selalu nolak. Karena gue pikir nggak ada lagi hal yang harus diomongin.
Udah dua hari juga, Tarra izin kerja. Gue nggak tau dia kemana. Dia juga lama, nggak pulang ke kos-kosan. Gue kangen dia.

Beberapa hari kemudian, Fandi dateng ke kos-kosan. Dia bilang mau ketemu sama Tarra. Tapi, Tarra sekarang lagi nggak ada dirumah. Kata Fandi, dua hari yang lalu dia ketemu Tarra. Tarra bilang mau kenal sama Fandi. Dan minta Fandi dateng ke kos-kosan. Tapi, ternyata Tarra nggak ada.
Saat itu, gue curiga apa yang mau Tarra lakukan? Gue nggak ngerti maksud dia ketemu sama Fandi.

Setelah lama Tarra izin kerja, tiba-tiba dia masuk dengan kondisi yang kurang fit. Tarra terlihat marah. Gue nggak ngerti kenapa dia marah.
Tiba-tiba direktur minta kami untuk bikin cerita baru mengenai remaja. Dan tiba-tiba, Tarra mengusungkan tema tentang “musuh dalam selimut..”
Awalnya gue kurang setuju, karena gue fikir itu terlalu biasa.
Tapi, direktur setuju dengan ide Tarra. Dan akhirnya, kami mencari info di kalangan remaja mengenai musuh dalam selimut dalam persahabatan.
Akhirnya, penyelidikan kami selesai. Tapi, Tarra masih bersikap aneh sama gue.
Setelah naskah selesai gue edit, nggak lama direktur marah besar sama hasil editan gue. Beliau bilang, naskah yang udah gue bikin sangat buruk. Dan dia, minta diulang. Setelah gue lihat, hasil editan ini bukan seperti yang gue bikin. Tapi, direktur nggak mau tau. Dan Tarra terlihat menjebak gue, disituasi saat itu.

Akhirnya gue coba untuk ngomong sama dia tentang sikapnya itu..
“Tar, lo kemana aja?” tanya gue.
“itu urusan gue.” Jawab Tarra ketus.
“lo kenapa sih? Lo marah sama gue?” tanya gue.
“kalo iya, kenapa? Apa lo peduli?” tanya Tarra sinis.
“lo kenapa sih?” tanya gue.
Tiba-tiba Jason datang. 
“denger ya.. lo dan lo Jason, kalian itu udah bohongin gue.. kalian itu jahat!” kata Tarra keras.
“maksud kamu apa? Aku nggak ngerti..” kata Jason.
“nggak usah belagak peduli sama gue.. dan lo Keni. Gue tau siapa pacar lo itu! Pacar SMA lo itu Jason kan? Jason yang jadi pacar gue juga! Kenapa lo nggak bilang sama gue? Kenapa kalian rahasiain ini dari gue? Apa gue nggak boleh tau?” kata Tarra keras sambil nangis.
“Tarra, gue nggak bermaksud untuk ngerahasiain ini dari lo.. gue juga nganggep kalo hubungan gue sama Jason udah selese..” kata gue sambil nangis.
“tapi kenapa lo nggak cerita. Kenapa lo pendam ini sendiri? Kenapa? Lo bilang, gue ini sahabat lo! Tapi lo malah main rahasiain masalah ini..” kata Tarra.
“tar.. tarra...” kata gue dan Jason.
Tiba-tiba Tarra pingsan.
Jadi, selama Tarra izin, dia nyari tau tentag pacar gue. Dan akhirnya dia tau, bahwa Jason adalah pacar gue ketika SMA..


Besoknya Tarra siuman. Tarra masih marah sama gue dan Jason. Jason berusaha untuk ngejelasin ke Tarra berkali-kali dan gue juga sama. Tapi, hasilnya nihil. Tarra tetap marah sama kita.

Tiba-tiba ibu Tarra datang dan bilang sama gue, tentang kondisi Tarra. Ternyata Tarra selama 6tahun positif mengidap penyakit kanker serviks. Gue shock, denger itu semua. Dan gue bener-bener nggak nyangka. Kenapa hal seperti ini Tarra nggak pernah cerita. Gue  merasa berdosa sama Tarra. Karena, hidup dia udah nggak lama lagi. Cinta mudah dicari, tapi sahabat seperti Tarra sulit dicari. Dan gue memutuskan, untuk melepaskan Jason.
Ibu Tarra juga cerita tentang hubungan Tarra dan Jason. Ternyata, Tarra dan Jason memang sudah ah tunangan. Mereka tunangan sebelum Jason berangkat ke Australi. Orangtua Jason berteman baik dengan orangtua Tarra. dan akhirnya, mereka dijodohkan.

Setelah gue fikir berkali-kali, akhirnya gue bisa menerima ini semua. Dan gue mencoba untuk bilang tentang hal ini sama Jason. Tapi, Jason nolak..
“Jas.. aku mau ngomong sama kamu..” kata gue.
“ada apa?” kata Jason.
“Jas, aku pikir kita selama ini udah nggak ada hubungan lagi. Dan lebih baik kita...” kata gue.
Jason langsung memotong omongan gue..
“dan lebih baik kita putus? Aku nggak bisa ken..” kata Jason sambil memegang tangan gue.
“tapi, Tarra lebih butuh kamu..”kata gue.
“Tarra memang butuh aku, tapi aku butuh kamu..” kata Jason sambil mencium tangan gue yang digenggamnya.
“Jas, aku nggak bisa gini terus.. please, Jas.. kalo kamu sayang aku, tolong.. kamu juga sayang Tarra kan? Anggep aja Tarra itu aku..” kata gue.
“tapi aku nggak bisa..”kata Jason.
“kita pasti bisa..” kata gue meyakinkan.
Dan setelah itu, gue langsung pergi sambil nangis, dan Jason juga.
Tapi gue harus tegar, ini semua demi Tarra.


Tiga bulang berlalu, gue udah nggak satu kamar lagi sama Tarra. Sekarang Tarra tinggal sama orangtuanya di Bandung. Dua hari lagi hari pernikahan Tarra dan Jason. Perasaan kehilangan masih gue rasakan. Tapi gue harus tegar.. karena Jason pergi sama sahabat gue, dan Jason nggak jauh dari gue. Karena Tarra termasuk bagian dari gue...


Hari pernikahan Tarra dan Jason tiba. Gue datang, dan mengantarkan Tarra ke altar pernikahan. Saat itu, gue ngerasa ikut bahagia. Mungkin Tarra juga sama.
Saat, ijab kabul dimulai tiba-tiba Tarra melakuka sesuatu yang sangat mengagetkan. Tarra meminta, pernikahannya di batalkan. Dan dia mengatakan sesuatu..
“maaf, papa.. mama.. Tarra nggak bisa ngelanjutin pernikahan ini..” kata Tarra.
Saat itu, gue hanya terdiam.
“kenapa nak? Ada apa?” kata ibu Tarra.
“Tarra rasa Jason nggak cocok sama Tarra. Tarra tau, umur Tarra udah nggak lama lagi. Tarra nggak mau bikin beban untuk Jason. Tarra juga tau, siapa yang Jason cinta selama ini.. Jason selama ini cinta sama Keni bukan Tarra.. dan Tarra minta sama Jason..
Jas, tolong demi aku. Menikahlah dengan Keni...” kata Tarra.
Setelah gue denger omongan Tarra, gue hanya terpaku.
Tiba-tiba Tarra manggil gue, dan nyatuin tangan gue semdan Jason. Dia bilang..
“kalian harus bahagia, maaf karena aku kalian terpisah.. tapi, sekarang aku nggak akan misahin kalian.. aku sayang kalian.. makasih ken, jas, mama, papa.. udah bikin aku bahagia selama ini..”kata Tarra.

Dan tiba-tiba, Tarra menghembuskan nafas terakhir di tempat itu. Kami yang berada di lokasi sangat terkejut dengan kejadian ini..
Ternyata, Tarra menyampaikan amanah yang terakhir..
Selamat Jalan Tarra, kami tidak akan pernah melupakan mu.




SELESAI


 

cerita ini hanya fiktif belaka
bila ada kesamaan pada latar, ending, nama pemain, puncak permasalahan, itu adalah kesamaan yang tak disengaja. terimakasih.






***Kirimkan kritik dan saranmu via e-mail: nuraini_azista@yahoo.com
atau bisa dengan mention/ via facebook: @nurainiazis / Nuraini Azista Putri











Tidak ada komentar:

Posting Komentar